Sultraraya.com — Dugaan perselingkuhan yang menyeret nama Kepala Desa Kolombi, Kecamatan Matausu, Kabupaten Bombana, dan seorang anggota TNI berinisial DA memicu keresahan warga.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kolombi, Eddy Suprapto, mengaku menerima laporan keberatan dari sekitar 50 warga terkait persoalan yang dinilai mencoreng nama baik desa.
“Saya sudah buatkan laporan. Itu masyarakat yang melapor ke saya. Mereka sudah tanda tangan semua, berkisar sekitar 50 orang,” kata Eddy kepada KENDARIKINI.COM, Sabtu (17/10/2026).
Eddy menyatakan laporan tersebut akan ditindaklanjuti kepada Bupati Bombana untuk memperoleh penanganan sesuai kewenangan.
Persoalan ini mencuat setelah seorang perempuan berinisial M mengungkap dugaan hubungan suaminya, DA, dengan perempuan berinisial R yang disebut menjabat sebagai Kepala Desa Kolombi.
M mengaku mulai curiga setelah menerima informasi bahwa DA diduga membawa seorang perempuan ke rumah di kawasan perumahan BTN, Kota Kendari.
Untuk memastikan informasi tersebut, M menghubungi saksi dan meminta kerabatnya mendatangi lokasi. Menurut pengakuannya, perempuan berinisial R ditemukan bersama anaknya di rumah tersebut.
DA sebelumnya membantah tuduhan perselingkuhan. Dalam komentar di media sosial pada 3 Mei 2026, ia menyebut keberadaan R berkaitan dengan urusan penyewaan rumah.
M juga mempertanyakan informasi mengenai dugaan pengurusan perceraian tanpa sepengetahuannya. Ia menegaskan masih menganggap dirinya sebagai istri sah DA.
Ketegangan di Desa Kolombi kembali terjadi pada 10 Oktober 2026. Eddy mengaku mendatangi rumah R setelah menerima laporan warga mengenai keberadaan DA di lokasi tersebut.
Eddy mengatakan dirinya sempat meminta DA meninggalkan desa untuk mencegah keributan. Namun, berdasarkan keterangannya, DA masih berada di lokasi setelah Magrib.
Eddy kemudian kembali bersama petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) dan meminta DA pergi.
Selain persoalan rumah tangga, M mengaku dirinya dan anaknya menghadapi persoalan penelantaran. Ia menyebut anaknya menjalani pengobatan di Makassar karena epilepsi dan gangguan perkembangan.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya meminta konfirmasi kepada DA, R, serta pihak TNI terkait dugaan tersebut. Tuduhan yang disampaikan para pihak masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.*















